Pembakaran Bendera HTI, MUI Minta Jangan Jadi Polemik

oleh

Jakarta – Wakil Ketua Umum MUI, Zainut Tauhid Sa’adi meminta pembakaran bendera yang bertuliskan kalimat tauhid yang mirip bendera ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) oleh anggota Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Nahdlatul Ulama tidak perlu dibesar-besarkan dan dijadikan polemik.

“Karena hal tersebut dapat menimbulkan kesalahpahaman dan memicu gesekan,” ujar Zainut Tauhid kepada VIVA di Jakarta, 23 September 2018.

Bahkan, Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas telah memberikan penjelasan alasan pembakaran bendera yang bertuliskan kalimat tauhid oleh anggotanya, karena semata untuk menghormati dan menjaga agar tidak terinjak-injak atau terbuang di tempat yang tidak semestinya.

“Hal tersebut disamakan dengan perlakuan kita ketika menemukan potongan sobekan mushaf Alquran yang dianjurkan untuk dibakar jika kita tidak dapat menjaga atau menyimpannya dengan baik,” tuturnya.

Untuk itu, Zainut kembali menegaskan, tidak perlu dipermasalahkan, apalagi ditanggapi secara emosional dengan menggunakan kata-kata yang kasar seperti melaknat, mengatakan biadab dan menuduh seperti Partai Komunis Indoensia (PKI).

“Karena hal tersebut dapat menimbulkan ketersinggungan kelompok yang dapat memicu konflik intern umat beragama,” katanya.

Karenanya, Zainut meminta semua pihak menahan diri dan berhati-hati, tidak terpancing dan terprovokasi oleh pihak-pihak yang ingin mengadu domba dan memecah-belah bangsa Indonesia.

“Ke depan MUI meminta kepada Banser dan semua pihak untuk berhati-hati dan tidak gegabah melakukan tindakan yang dapat memancing emosi umat Islam,” ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Coumas membenarkan aksi pembakaran itu dilakukan oleh anggotanya. Namun, dia menegaskan, yang dibakar adalah bendera organisasi terlarang, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Yaqut mencoba melihat dari perspektif lain, bahwa yang dilakukan anggotanya adalah untuk menjaga kalimat tauhid.

“Saya mencoba memahami dari sudut pandang yang berbeda bahwa apa yang dilakukan teman-teman itu adalah upaya menjaga kalimat tauhid. Jika bukan bendera yang ada tulisan tauhidnya, bisa jadi oleh mereka tidak dibakar, tetapi langsung buang saja ke comberan,” ujar Yaqut kepada VIVA.

Aron

Sumber: viva        .