Abu Bakar Ba’asyir Tak Mau Pembebasannya Dikaitkan Pilpres

oleh

Jakarta – Pengacara Abu Bakar Ba’asyir, Achmad Michdan, mengklaim bahwa kliennya menerima dengan ikhlas kebijakan Presiden Joko Widodo yang mengakhiri masa hukumannya. Tetapi, katanya, Ba’asyir meminta pembebasan tanpa syarat itu tidak dikait-kaitkan dengan politik, terutama pemilu presiden 2019.

“Beliau (Abu Bakar Ba’asyir) tidak mau dikaitkan dengan politik,” kata Michdan pada Senin pagi, 21 Januari 2019.

Michdan juga meminta publik tak menghubung-hubungkan peran Yusril Ihza Mahendra dalam membantu meyakinkan Presiden untuk membebaskan Ba’asyir hanya karena ketua umum Partai Bulan Bintang itu mendukung Jokowi dalam pemilu presiden.

Menurutnya, mestinya itu cukup dipahami sebagai kebetulan saja Yusril di kubu Jokowi, bukan sebaliknya. Namun, penting dimaklumi juga bahwa Yusril selama ini tak hanya membantu atau membela Ba’asyir, melainkan juga banyak aktivis muslim yang dihukum penjara karena aktivitas mereka.

“Saya tahu Pak Yusril sudah berbuat banyak juga terhadap banyak aktivis Islam. Barangkali kebetulan saja Pak Yusril (mendukung Jokowi dalam pemilu presiden). Padahal beliau sudah banyak membebaskan para aktivis Islam dari dulu,” katanya.

Michdan berterus terang bahwa Ba’asyir memang menolak syarat yang diajukan oleh pemerintah agar pemimpin Majelis Mujahidin Indonesia menyatakan kesetiaan kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ba’asyir, katanya, masih berkukuh pada keyakinannya setia pada hukum Islam, bukan pada Pancasila atau NKRI.

Ba’asyir dengan tegas menyatakan mencintai bangsa dan negara Indonesia. Tetapi, katanya, Ba’asyir menolak menyatakan kesetiaan pada Pancasila, karena Islam sesungguhnya tak bertentangan dengan dasar negara.

Michdan berkisah ketika Yusril membujuk Ba’asyir tentang keyakinannya bahwa ajaran Islam pada dasarnya tak bertentangan dengan Pancasila, dan karena itu Ba’asyir bisa dalam waktu bersamaan mengakui kesetiannya pada Pancasila. Ba’asyir, katanya, menjawab bahwa “Kalau memang begitu, kenapa tidak setia pada Islam saja.”

Sumber: detik              .