Anak Bunuh Ibu Kandungnya Karena Ikuti Bisikan Gaib

oleh

Kampung Golo Tango – Setelah menerima laporan peristiwa kematian seorang ibu yang dibunuh anak kandung, Minggu 17 Maret 2019, Kapolres Manggarai Nusa Tenggara Timur Ajun Komisaris Besar Polisi Cliffry Steani Lapian langsung memerintahkan anggotanya untuk turun ke tempat kejadian perkara di Kampung Golo Tango Desa Benteng Wunis Kecamatan Pocoranaka Timur Manggarai Timur.

Tiba di Desa Golo Tango sekitar pukul 15.00 WITA kemarin, tim yang terdiri dari unit Identifikasi, penyidik satuan Reskrim serta anggota Intelkam langsung melakukan olah TKP dipimpin KBO Reskrim, Inspektur Polisi Dua (Ipda) Tony Ndapa. Polisi juga mengamankan pelaku yang telah diikat warga di rumah kepala desa.

Saat olah TKP di dalam rumah milik Lasarus Hamin yang juga merupakan anak korban, polisi menemukan barang bukti kayu balok yang terletak dekat kepala korban yang hancur. Kayu sepanjang 40 centimeter itu diamankan sebagai barang bukti.

Polisi kemudian mengevakuasi jenazah korban ke Puskesmas Watunggong untuk kepentingan Visum Et Repertum. Sementara itu, pelaku Hendrikus Mogol tiba di Mapolres Manggarai Minggu malam untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Pemuda 19 tahun yang merupakan anak ke enam pasangan Fransiskus Haji dan Benedita Sil ini berbicara ngelantur. Namun ia mengaku telah membunuh ibunya karena disuruh oleh mahluk gaib dalam ujud seorang perempuan tua.

“Saya tidak tahu siapa itu nenek-nenek. Dia yang suruh saya bunuh mama ya saya hantam sudah pakai kayu dan aki (accu) bekas,” tutur pemuda tanggung yang biasa dipanggil Yoyo ini.

Pelaku juga mengaku bahwa peristiwa itu bermula ketika dua keponakannya yang tidur bersamanya terlihat seperti kucing dan anjing.

“Saya cekik mereka karena berubah menjadi anjing dan kucing. Saya juga jengkel banyak suara memanggil saya sebagai siluman ular,” katanya.

Lantaran keterangannya tidak masuk akal, penyidik Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Manggarai yang menangani kasus ini, urung membuat Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Penyidik PPA hanya memeriksa dua orang saksi masing-masing Martinus Hatas (62) dan John Johasan (42). Sementara, pelaku dijebloskan ke ruang tahanan Polres dengan tangan diborgol.

Kronologi kejadian

Cliffry menceritakan, peristiwa pembunuhan itu terjadi pada hari Minggu dini hari sekira pukul 01.00 WITA. Saat itu pelaku terbangun dari tidur lalu berhalusinasi melihat dua orang keponakannya yang tidur bersamanya seperti kucing dan anjing.

Dua bocah yang diketahui berinisial AS dan BFM berteriak karena leher mereka dicekik pelaku. Teriakan itu kemudian membangunkan Lasarus Hamin yang adalah orang tua dari AS. Jarak rumah Lasarus dengan rumah orang tuanya hanya sekitar 3 meter.

“Sempat terjadi pergulatan antara Lasarus dan pelaku namun Hendrikus ini tidak mau melepaskan tangannya dari leher kedua ponakannya sehingga kakak pelaku (Lasarus) terpaksa menggigit tangan pelaku sehingga dua bocah itu berhasil kabur dan disuruh lari ke rumah tetangga,” ujar AKBP Cliffry, Minggu malam.

Keributan antara kakak beradik itu kata Kapolres Cliffry, membangunkan ibu mereka Benedikta Sil yang sedang tidur. Benedikta lalu mencoba melerai keributan itu. Lasarus Hamin kemudian menyusul anaknya yang lari ke rumah tetangga diikuti istrinya.

“Pelaku kemudian menyusul sambil membawa ibunya (korban) ke rumah kakaknya sekitar 3 meter dari rumah orang tuanya. Namun sampai di rumah itu, pelaku justru mengunci pintu dari dalam. Saat itulah pelaku leluasa menghabisi nyawa korban dengan kayu,” tuturnya.

Dikatakan, teriakan sang ibu sebelum tewas terdengar oleh warga bernama John Johasan. Pria tersebut memanggil Lasarus Hamin yang sedang berada di rumah tetangga. Keduanya pun membujuk adiknya supaya membukakan pintu rumah. Namun upaya itu gagal, yang terdengar dari dalam rumah hanyalah bunyi hantaman bertubi-tubi yang mengenai dinding rumah.

“Sekitar pukul 03.00 dini hari pelaku baru membukakan pintu setelah ditawari uang oleh warga yang berkerumun di luar. Warga akhirnya menangkap pelaku dan mengikat tangan dan kakinya menggunakan tali nilon,” kata AKBP Cliffry.

Kapolres Manggarai juga mejelaskan bahwa saat kejadian, suami korban Fransiskus Haji sedang tidak berada di rumah karena malam itu Fransiskus menginap di kebun.

KBO Reskrim Polres Manggarai, Ipda Tony Ndapa yang memimpin olah TKP mengatakan, sehari-harinya pelaku dikenal oleh warga kampung Golo Tango sebagai anak yang rajin mengikuti orang tuanya bekerja di kebun.

“Pengakuan dari tetangga dan keluarganya, pelaku ini dikenal sopan dan rajin bekerja di kebun bersama bapak dan ibunya (korban). Namun apakah dia pura-pura seolah-olah seperti kesurupan nanti akan kita dalami supaya mengetahui motif yang sebenarnya,” Tony

Sumber: viva          .