Jokowi Tak Setuju Pulangkan WNI Eks ISIS

oleh -53 views

Jakarta – Wacana soal pemulangan Warga Negara Indonesia (WNI) eks ISIS terus bergulir. Ada pro dan kontra terkait rencana pemulangan eks ISIS ini.
Namun, kita bisa kembali berkaca pada kisah sebagian eks kombatan Afghanistan yang pulang ke RI dan membuat onar.
Seperti diketahui ‘Kekhalifahan’ ISIS telah dinyatakan tumbang.
Sebagian warga Indonesia yang ditemukan berada di antara ribuan kombatan asing ISIS menyatakan ingin kembali ke Indonesia. Di antara mereka terdapat puluhan anak dan perempuan, yang berada di kamp pengungsi di Al-Hol, Suriah timur.
Rencana soal pemulangan WNI eks ISIS ini pun kemudian muncul. Namun, perlu diingat, bahwa kasus WNI eks ISIS ini yang sempat bertempur dengan lewat dalih ideologis ini mirip dengan kisah sebagian alumni Afghanistan.
Rencana soal pemulangan WNI eks ISIS ini pun kemudian muncul. Namun, perlu diingat, bahwa kasus WNI eks ISIS ini yang sempat bertempur dengan lewat dalih ideologis ini mirip dengan kisah sebagian alumni Afghanistan.
Dulu, pernah ada pula beberapa WNI yang bergabung dengan kaum Mujahidin Afghanistan dan akhirnya pulang ke Indonesia.
Alih-alih menjadi warga negara RI yang kembali patuh pada konstitusi, mereka justru berulah lewat sejumlah aksi teror bom.
Adalah Mukhlas yang merupakan terpidana mati Bom Bali 2002. Mukhlas adalah kakak kandung Amrozi dan Ali Imron, pelaku bom bali lainnya. Amrozi juga terpidana mati, sedangkan Ali Imron divonis penjara seumur hidup.
Mukhlas pernah mengajar di Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah yang didirikan oleh ustadz Abu Bakar Baasyir dan Abdullah Sungkar. Selain beraktivitas di Ponpes, Mukhlas juga tercatat sebagai mahasiswa Universitas Islam Surakarta. Pada saat itulah keinginannya untuk berjihad muncul.
Mukhlas pun rela meninggalkan bangku kuliah dan pergi ke Afghanistan pada 1986. Dia bergabung dengan kaum Mujahidin Afghanistan untuk berjuang melawan tentara Rusia. Ketika bergabung dengan Mujahidin Afghanistan inilah kemampuan Mukhlas menjadi terasah. Kala itu, Ali Imron juga ikut tinggal di Afghanistan bersama Mukhlas.
Mukhlas sempat tinggal di Malaysia dan turut bergabung dalam organisasi radikal Jamaah Islamiyah (JI). Dia kemudian pulang ke Indonesia dan mulai terlibat dalam serangkaian peledakan bom di Indonesia selama tahun 2001. Pada peristiwa peledakan bom di Bali, 12 Oktober 2002, Mukhlas adalah pencari dana untuk membuat bom. Mukhlas akhirnya dihukum mati di Nusakambangan pada 9 November 2008.
Mukhlas, Kolektor Dana Bom yang Merasa Serba Beruntung.
Selain Mukhlas, ada pula nama Imam Samudra. Imam Samudra juga merupakan terpidana mati teror Bom Bali 2002. Sebelum itu, Imam Samudra pernah melanglang buana ke Malaysia hingga Afghanistan. Dia juga tergabung dengan JI. Dia juga belajar soal senjata api dan bom ketika tinggal di Afghanistan.
Imam Samudra dikenal sebagai otak bom Bali yang sering berkomunikasi lewat internet. Dia menyebarkan propaganda jihad dan pertukaran informasi lewat internet. Dia menjadi terpidana mati yang turut dieksekusi bersama Mukhlas.
Berkaca dari kisah sebagian kombatan Afghanistan ini, pemerintah tentunya bisa menimbang lagi soal wacana pemulangan WNI eks ISIS. Pemerintah harus bisa memastikan bahwa sebagian alumni Afghanistan ini tak berulang lagi pada kasus alumni ISIS.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan sikap pribadinya terkait rencana pemulangan WNI eks ISIS. Jokowi mengaku tak setuju.
“Kalau bertanya pada saya, ini belum ratas lho ya, kalau bertanya pada saya, saya akan bilang ‘tidak’. Tapi masih dirataskan. Kita ini pastikan harus semuanya lewat perhitungan kalkulasi plus minusnya semuanya dihitung secara detail dan keputusan itu pasti kita ambil di dalam ratas setelah mendengarkan dari kementerian-kementerian dalam menyampaikan. Hitung-hitungannya,” kata Jokowi di Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu (5/2/2020).
Sementara itu, Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin mengatakan wacana pemulangan 600 WNI mantan anggota ISIS ke Indonesia masih dikaji. Kajian mendalam itu bertujuan agar WNI eks ISIS tidak justru mempengaruhi warga. Memperlakukan eks ISIS harus hati-hati, tak boleh kalah hati-hati dengan cara memperlakukan WNI yang berpotensi terjangkit virus Corona. Perlu isolasi terlebih dahulu.
“Tentu kita pertama tidak ingin mereka yang sudah, apa ya namanya, terjangkit, terpapar radikalisme itu tentu kalau dikembalikan apakah melakukan penularan atau tidak,” kata Ma’ruf di kantor Wakil Presiden, Jalan Veteran III, Gambir, Jakarta Pusat.
Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud Md mengatakan pemerintah membentuk tim untuk mengkaji positif-negatifnya pemulangan mantan kombatan ISIS ke Indonesia. Belum ada keputusan sampai saat ini, apakah Indonesia bersedia memulangkan mereka atau tidak.
Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo (Bamsoet) menyatakan pada dasarnya MPR mendukung jika pemerintah memang ingin memulangkan para WNI tersebut. Bamsoet tak khawatir dengan kepulangan eks ISIS, asalkan sudah ada pertimbangan masak dan rencana tahap demi tahap sudah matang.
sumber : detik. com

.

 

 

 

Kompas Lowongan Kerja